Ekspedisi Merbabu Part 1

•Maret 10, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada tanggal 15-Februari-2009 lalu, Tim Kepak Sayap kembali melakukan ekspedisi lapangan untuk melakukan survey burung di Jalur Pendakian Tekelan, Kopeng Gunung Merbabu. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan penelitian salah satu anggota Kepak Sayap yang meneliti keanekaragaman jenis burung di kawasan tersebut.

Tim yang berangkat berjumlah 4 orang, diantaranya; Topan, Tegar, Adjis dan Risna. Ekspedisi ini merupakan survey lapangan tahap awal, dikarenakan lokasi yang mungkin relatif baru dikunjungi oleh Tim Kepak Sayap.

Selain itu, faktor cuaca yang tidak menentu menjadikan ekspedisi ini sedikit mengalami kendala. Awalnya ekspedisi dilakukan pagi hari, pada areal pendakian di titik-titik awal (umumnya di dominasi oleh tanaman perkebunan dan ladang) banyak dijumpai kawanan Bentet Kelabu (Lanius schach), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquata). Selain itu, di titik awal ini juga ternyata sudah dapat dijumpai Ayam-hutan hijau (Gallus varius).

NB: untuk pengamatan kali ini hanya diteruskan hingga POS I Pendhing (1965 m dpl) hal ini disebabkan faktor cuaca (hujan) dan kondisi medan yang kurang memungkinkan, untuk report selanjutnya tidak menutup kemungkinan akan dilakukan ekspedisi ulang hingga mencapai area yang lebih tinggi, sehingga output database burung yang didapat akan lebih lengkap.Bentet Kelabu (Lanius schach)

Tentang Bird Watching di Taman Balekambang dan Mengenal Pasar Burung Depok

•Januari 1, 2009 • 2 Komentar

cimg6469-smallMinggu (28/12) di akhir bulan Desember, anggota Kepak Sayap kembali mengadakan kegiatan. Awalnya rencana kegiatan ini lebih difokuskan kepada pengamatan burung dengan mengambil lokasi di Taman Balekambang, Surakarta. Area ini merupakan sebuah taman kota yang di dalamnya banyak sekali terdapat tanaman-tanaman peneduh dengan tajuk pohon yang cukup lebar, sehingga diharapkan banyak terdapat spesies burung yang terdapat disana.
Kegiatan ini juga dijadikan kesempatan sebagai ajang temu anggota, dimana Dewi Puspitasari atau akrab disapa Mbak Ita, anggota Kepak Sayap yang saat ini berdomisili di Cirebon hadir dan berkesempatan untuk mengikuti kegiatan ini.
Setelah bertemu di tempat yang sudah dijanjikan, ternyata prediksi kami sedikit meleset, dimana area pengamatan digunakan untuk “lomba burung kicau” dan disana sudah dipadati oleh ratusan pengunjung, sehingga pengamatan yang tadinya direncanakan di Taman Balekambang, pada kesempatan kali ini agaknya harus tertunda. Karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Hal tersebut menjadikan kami merubah rencana awal, dan area pengamatan berganti lokasi di Pasar Burung Depok, hal ini juga memberi nilai lebih, karena anggota diajak untuk lebih mengetahui jenis-jenis burung yang dilindungi dan masih diperjualbelikan di Pasar Burung tersebut, selain itu di Pasar Burung tersebut juga dapat melihat jenis-jenis burung lebih dekat.
Dari pengamatan tersebut, terdapat jenis burung paruh bengkok, seperti Nuri Ambon (Lorius garulus), Nuri Kepala Hitam (Lorius lory), Kakatua Besar Jambul Kuning (Cacatua galerita), selain itu terdapat juga jenis raptor yaitu Elang Bondol (Haliastur Indus). (KS)

Tentang blog Kepaksayapbirdwatchersclub

•Desember 23, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Awalnya blog ini dibuat sebagai representasi atas gambaran kegiatan ataupun aktivitas yang selama ini telah dilakukan oleh Kelompok Studi Kepak Sayap, sehingga diharapkan seluruh aktivitas yang dilakukan dalam periode tertentu dapat terdokumentasikan dengan baik sehingga seluruh anggota dapat me-monitor aktivitas tersebut dimanapun dan kapanpun mereka berada.
Namun seiring dengan perkembangan waktu, untuk perjalanan kedepannya tidak menutup kemungkinan blog ini juga dapat diperluas “content” ataupun wacana yang ditawarkan melalui penambahan artikel ilmiah, jurnal, info terkini dan hal lain yang tentunya masih spesifik di dalam area “ornithologi” maupun “konservasi burung”.
Untuk saat ini blog masih dalam tahapan pengembangan, baik dalam hal yang terkait dengan “layout” maupun isi di dalamnya, sehingga bagi kawan-kawan dan anggota yang tertarik dan berminat untuk memberikan kontribusi berupa tulisan, ide, saran, kritik ataupun hal-hal yang bersifat membangun, silahkan kontak langsung ataupun kirimkan tulisan anda ke alamat email : bos_burung@yahoo.co.id ; jejaka_masa_kini@yahoo.co.id (KS).

Indonesia Temukan Spesies Baru Burung Kacamata (Zosterops somadikartai)

•Desember 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

zosterops-somadikartai-322

Spesies jenis ini hanya terdapat di tiga pulau, yakni di Batudaka, Togian, dan Malange. Spesies baru burung kacamata ditemukan di Kepulauan Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Spesies baru burung kacamata ini telah diberi nama dengan sentuhan lokal, Zosterops somadikartai. Penemuan spesies baru ini telah dipublikasikan oleh ilmuwan Indonesia dalam edisi terbaru Wilson Journal of Ornithology pada Mater 2008. Ini merupakan salah satu jurnal ornitologi paling terkemuka di Amerika Serikat (AS).

”Para ahli dari Asia belum ada yang masuk jurnal itu, mungkin kita yang pertama,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Ornithologists’ Union (IdOU), Adam Supriatna, di Museum Zoologicum Bogoriense, Puslitbang Biologi, Cibinong, Bogor, Jumat (14/3).

Dalam terbitannya, Wilson Journal of Ornithology menjadikan kajian ilmiah burung kacamata togian sebagai artikel utama dan sekaligus halaman sampul. Ilustrasi sampul edisi tersebut pun dibuat oleh seorang ilustrator alam dari Yogyakarta, Agus Prijono. ”Ini suatu prestasi yang cukup luar biasa bahwa seorang ahli dari negara berkembang berhasil menampilkan ilustrasinya dalam majalah ilmiah terkemuka di AS,” cetus Adam.

Burung kacamata togian diperkenalkan di dunia ilmu pengetahuan 12 tahun setelah pertama kali diamati di lapangan. Penemuan lapangan dilakukan oleh Indrawan dan Sunarto, dua peneliti lapangan dari Universitas Indonesia (UI). Sementara, pertelaahan jenis baru ini diselesaikan melalui kerja sama dengan Dr Pamela Rasmussen dari Michigan State University, AS. Rasmussen merupakan seorang ahli taksonomi terkemuka di dunia yang mengambil spesialisasi spesies burung Asia.

Karya ilmiah penemuan burung kacamata togian tergolong luar biasa, karena merupakan kerja sama peneliti nasional dan internasional. Selain itu, mengabadikan salah satu ahli taksonomi bangsa Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa di dunia, yakni Profesor Somadikarta. Ia adalah Presiden Kehormatan untuk International Ornithological Congress XXV (pertemuan di Brasil pada 2010). Sebelumnya, Somadikarta juga pernah menjadi Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) Universitas Indonesia pada 1978 hingga 1984 dan sebagai pejabat sementara Kepala Museum Zoologicum Bogoriense) pada 1962 hingga 1966 dan 1968 hingga 1970.

Kurang dari 5.000 ekor

Burung-burung kacamata merupakan kumpulan spesies yang bertubuh kecil, berwarna kehijauan, dan umumnya memiliki lingkar mata berwarna putih. Dalam berperilaku, mereka sangat aktif bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Indonesia memiliki berbagai spesies kacamata atau Zosterops. Di Sulawesi dan pulau-pulau sekelilingnya terdapat tidak kurang dari 10 satuan-satuan spesies dan subspesial (taksa) yang di dalamnya terdapat enam spesies.

Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Rasmussen dan rekan-rekannya,, jumlah taksa di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya bahkan mencapai 15 taksa, termasuk sembilan atau 10 spesies Zosterops. Sebaran berbagai taksa burung kacamata tersebut kebanyakan tidak tumpang-tindih. Beberapa spesies kacamata hanya terdapat di satu atau dua bagian Pulau Sulawesi.

Kacamata togian berbeda dengan spesies kacamata lainnya, karena tidak memiliki lingkaran putih di sekeliling mata. Mata spesies kacamata togian berwarna kemerahan, dan paruhnya lebih kemerahan dibanding yang lain. ”Ia hanya terdapat di tiga pulau, yakni di Batudaka, Togian, dan Malange. Diperkirakan, jumlahnya kurang dari 5.000 ekor,” ungkap salah seorang penemu, Indrawan.

Sayangnya, kata Indrawan, pada saat ditemukan, spesies kacamata togian harus langsung digolongkan ‘genting’ kepunahan (endangered), berdasarkan kriteria International Union for the Conservation of Nature Resources (IUCN). ”Walaupun di daratan utama Sulawesi burung-burung kacamata seringkali melimpah, burung kacamata togian ini ternyata hanya ditemukan di pesisir beberapa pulau kecil di Kepulauan Togian, Sulawesi Tengah,” keluhnya.

Berdasarkan penemuan spesies baru burung kacamata ini, kata Adam, maka Kepulauan Togian pun memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai ‘daerah burung endemik’ (DBE). Sesuai kesepakatan pengetahuan konservasi (menggunakan kriteria yang dibuat oleh lembaga pelestarian internasional BirdLife International), hanya dibutuhkan dua spesies endemik atau yang hanya terdapat di daerah tersebut dan tidak terdapat di daerah lain, agar suatu daerah ditetapkan menjadi daerah burung endemik.

Kelompok tim peneliti Indrawan sebelumnya juga telah menemukan spesies baru burung hantu di kawasan hutan Kepulauan Togian, sekitar empat tahun lalu. Spesies itu diberi nama Ninox burhani (Indrawan and Somadikarta, 2004). ”Penamaan itu diberikan untuk mengabadikan nama petani dan pemburu setempat bernama Burhan dalam rangka menghargai kearifan lokal,” jelas Adam.

Menurut Dr Adi Basukriadi, Dekan FMIPA UI, penemuan spesies baru ini akan mendorong upaya lebih besar bagi pengembangan taksonomi, yakni ilmu pengetahuan yang mempertelakan dan menggolongkan mahluk hidup, khususnya di negara tropis. Profesor Somadikarta, lanjut dia, telah mendemonstrasikan bahwa warga suatu negara berkembang pun dapat berkontribusi bahkan turut menentukan standar dunia. ”Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya masih dapat terus dijelajahi untuk menemukan berbagai spesies lain untuk ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Direktur Puslit Biologi LIPI, Dr Dedy Darnaedi, menyambut baik pentingnya kerja sama internasional, terutama untuk membangun kapasitas ahli biologi dan ahli konservasi di Indonesia. Mengingat lajunya deforestasi serta degradasi hutan tropis dan humida, kata dia, maka penemuan spesies baru dan pelestariannya kini berpacu dengan waktu. ”Dalam negara megadiversiti ini, berapa banyak spesies yang akan punah sebelum sempat dikenal ilmu pengetahuan?” ingatnya. (www.republika.co.id )

Perdagangan Burung Paruh Bengkok di Pasar Burung Depok Surakarta

•Desember 21, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

s4030701

Burung paruh bengkok merupakan keluarga burung yang dicirikan dengan paruh yang bengkok dan kuat. Di Indonesia famili ini terdiri dari berbagai jenis burung-burung nuri (nuri-ara, nuri-raja, nuri macan dan nuri-kate), kasturi, perkici, kakatua, serindit dan kring-kring.

Menurut informasi terkini bahwa terdapat empat jenis burung paruh bengkok yang ada di kawasan Wallacea masuk dalam kategori genting (endangered) yaitu, Nuri Talaud (Eos histrio), Kakaktua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), Betet kepala pilipina (Tanygnatus lucioinensis) dan Nuri Sayap Hitam (Eos cyanogenia).

Kelompok terbesar burung paruh bengkok yang paling terancam adalah Nuri dan Kakatua. Penyebab utamanya adalah penangkapan untuk diperdagangkan. Adanya penangkapan ini ditunjang oleh rusaknya habitat yang menyebabkan kepunahan lokal beberapa jenis burung.

Burung paruh bengkok umumnya sangat diminati oleh pedagang burung di Indonesia. Burung ini dikenal karena kepintarannya menirukan suara-suara, sehingga tidak mengherankan apabila hampir di setiap pasar burung di Indonesia menjual burung paruh bengkok.

Pada dasanya semua jenis burung paruh bengkok (ordo Psitaciformes spp) masuk dalam Appendix CITES, kecuali yang masuk dalam appendix I dan III , saat ini ada 5 jenis burung paruh bengkok Indonesia yang masuk dalam appendix I CITES, yaitu Cacatua goffini(Kakatua Tanimbar), Cacatua mollucensis (Kakatua Maluku) , Cacatua sulphurea (Kakatua kecil jambul kuning), Probosciger aterrimus (Kakatua Raja) dan Eos Histrio (Nuri Talaud)

Hal ini berarti perdagangan komersil burung paruh bengkok yang masuk appendix I pada prinsipnya dilarang dan harus hasil penangkaran dan bukan tangkapan dari alam.

Spesies lain yang masuk appendix II bisa diperdagangkan namun harus berdasarkan kuota dan ijin yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan. Pada tahun 2007 Indonesia tidak mengeluarkan kuota ekspor untuk semua jenis burung, termasuk jenis burung paruh bengkok.

Pulau Jawa sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan Indonesia, terdapat banyak pasar burung, mulai dari pasar burung kecil (jumlah stand kurang dari 5) hingga pasar burung besar yang jumlah standnya diatas 100 buah.

Pasar Burung Depok Surakarta merupakan pasar burung yang terbesar di daerah Surakarta, dan dikelola oleh Pemkot Surakarta, berdasarkan investigasi Kepak Sayap pada akhir tahun 2007 hingga pertengahan 2008, pasar burung ini masih kedapatan memperjualbelikan satwa liar yang dilindungi, termasuk diantaranya beberapa jenis burung paruh bengkok.

Menurut hasil pengamatan pada bulan Desember 2007 hingga Mei 2008 di Pasar Burung Depok, Surakarta masih terdapat beberapa spesies burung paruh bengkok yang masih diperjual belikan di Pasar Burung Depok, Surakarta. Spesies-spesies tersebut diantaranya : Kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita), Nuri Kepala Hitam (Lorius lorry), Nuri Bayan (Eclectus loratus), Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), Kakatua tanimbar (Cacatua gofini), Nuri Kalung Ungu (Eos squamata), Nuri Ambon (Lorius garulus), Kakatua Putih (Cacatua alba), Nuri Sayap Hitam (Eos cyaogenia). Perdagangan beberapa spesies burung paruh bengkok di area tersebut juga diiringi dengan perdagangan satwa liar lainnya yang dilindungi.

Dari hasil di atas dapat diketahui bahwa dalam periode Desember 2007- Mei 2008, terdapat sekitar 9 jenis spesies burung paruh bengkok, 5 jenis diantaranya merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990, dimana beberapa kutipannya berbunyi : …“Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup maupun mati”.

Tidak banyaknya operasi penertiban atau penyitaan di Pasar burung Depok, Surakarta disinyalir menjadi pemicu masih banyaknya perdagangan burung paruh bengkok ini. Hal ini bisa disebabkan minimnya pelaporan kepada pihak yang terkait dalam hal ini Departemen Kehutanan, dan lambannya respon yang diberikan.

Oleh karena itu diperlukannya kerjasama dari berbagai macam elemen masyarakat maupun pihak terkait untuk meminimalisir terjadinya perdagangan burung paruh bengkok tersebut, selain itu diperlukan kontinuitas dari kegiatan monitoring itu sendiri sebagai kontrol dari perdagangan burung di Surakarta. (KS)

Sekilas Tentang Kepak Sayap

•Desember 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

kepaks11

Kepak Sayap merupakan kelompok studi yang berada di bawah naungan dari HIMABIO (Himpunan Mahasiswa Biologi) UNS Surakarta. Kelompok studi ini diprakarsai pada tanggal 10 Agustus 2005.
Anggota Kepak Sayap sendiri umumnya berasal dari mahasiswa di berbagai jurusan di UNS, hingga saat ini tercatat lebih dari 20 mahasiswa terdaftar sebagai anggota aktif yang turut berkecimpung dan memberi kontribusi bagi eksistensi Kepak Sayap di dalamnya. Selain itu, tercatat beberapa anggota lain yang berstatus sebagai non-mahasiswa ataupun memiliki aktivitas lain di luar kegiatan kemahasiswaan, secara keseluruhan Kepak Sayap masih tetap membuka jaringan komunikasi dengan mereka sehingga tidak menutup kemungkinan untuk anggota yang telah berstatus sebagai “alumni” ataupun notabene sudah tidak berdomisili di Kota Surakarta tetap mengetahui informasi maupun kegiatan yang dilakukan oleh Kepak Sayap.
Semenjak terbentuk hingga saat ini, Kepak Sayap memiliki komitmen penuh terhadap konservasi avifauna (burung) dan hal lain yang terkait di dalamnya. Kegiatan yang dilakukan antara lain; Pengamatan burung (bird watching), Monitoring Pasar Burung, Pembuatan Data Base, ataupun riset-riset yang berkaitan dengan burung, serta menjalin komunikasi dengan organisasi-organisasi lain yang terkait dengan konservasi burung.(KS)

Kepak Sayap punya “Bos Burung” baru

•Desember 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Terkait dengan hasil dari kegiatan pada tanggal 13-14 Desember lalu, dimana telah diadakan pelatihan anggota dan pelantikan kepengurusan untuk periode satu tahun ke depan. Saat ini Kepak Sayap mengalami masa “transfer” yang sangat erat kaitannya dengan keeksistensian ataupun kelangsungan dari KS-Kepak Sayap itu sendiri.

Status “bos burung” yang sebelumnya disandang oleh Galuh Danang Sumari (04), saat ini diestafetkan kepada Dian Kahfi Lestari (05), harapannya dengan dilakukan restrukturisasi kepengurusan, maka eksistensi dari Kepak Sayap akan terus berlangsung di bawah periode kepengurusan yang baru. Pengurus sebelumnya, statusnya tetap menjadi anggota Kepak Sayap, hanya berubah secara “struktural”.

Selamat atas terpilihnya periode kepengurusan baru yang diarmadai oleh Dian Kahfi Lestari, semoga tetap konsisten di dalam amanahnya untuk selalu menjaga pelestarian burung melalui kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. (KS)

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.